Jumat, 26 September 2014

TOKOH DAN TEORI KONFLIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    PENGERTIAN KONFLIK
Konflik adalah suatu proses antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya menjadi tidak berdaya. Konflik itu sendiri merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat maupun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggota atau antar kelompok masyarakat lainnya, konflik itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik yang dapat terkontrol akan menghasilkan integrasi yang baik, namun sebaliknya integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan suatu konflik. konflik organisasi menurut Robbins (1996) adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Pandangan ini dibagi menjadi 3 bagian menurut Robbin yaitu :

Ø  Pandangan tradisional.
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik ini suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan diantara orang-orang dan kegagalan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi para karyawan tersebut.



Ø  Pandangan kepada hubungan manusia.
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai sesuatu peristiwa yang wajar terjadi didalam suatu kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena didalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi tersebut.
Ø  Pandangan interaksionis.
Pandangan ini menyatakan bahwa mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya suatu konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif dan tidak inovatif. Oleh karena itu, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat dan kreatif.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    KARL MARX
Marx hidup setelah dua revolusi besar yaitu setelah revolusi Industri Inggris dan revolusi Kelas Borjuis Perancis.revolusi Borjuis di Perancis membuat Kelas Borjuis berkuasa atas kekuasaan politik dan ekonomi yang sebelumnya hanya dikuasai oleh para bangsawan-bangsawan Monarki Perancis. Di antara para perintis teori konflik, Karl Marx dipandang sebagai tokoh utama dan yang paling controversial yang menjelaskan sumber-sumber konflik serta pengaruhnya terhadap peningkatan perubahan sosial secara revolusioner. Marx mengatakan bahwa potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status dan kekuasaan politik.
Segi-segi pemikiran filosofis Marx berpusat pada usaha untuk membuka kedok sistem nilai masyarakat, pola kepercayaan dan bentuk kesadaran sebagai ideologi yang mencerminkan dan memperkuat kepentingan kelas yang berkuasa. Meskipun dalam pandangannya, orientasi budaya tidak seluruhnya ditentukan oleh struktur kelas ekonomi, orientasi tersebut sangat dipengaruhi dan dipaksa oleh struktur tersebut. Tekanan Marx pada pentingnya kondisi materiil seperti terlihat dalam struktur masyarakat, membatasi pengaruh budaya terhadap kesadaran individu para pelakunya.
Terdapat beberapa segi kenyataan sosial yang Marx tekankan, yang tidak dapat diabaikan oleh teori apa pun yaitu antara lain adalah, pengakuan terhadap adanya struktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang saling bertentangan diantara orang-orang dalam kelas berbeda, pengaruh yang besar dari posisi kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang serta bentuk kesadaran dan berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial, merupakan sesuatu hal yang sangat penting.
Marx lebih cenderung melihat nilai dan norma budaya sebagai ideologi yang mencerminkan usaha kelompok-kelompok dominan untuk membenarkan berlangsungnya dominasi mereka. Selanjutnya, mereka pun berusaha mengungkapkan berbagai kepentingan yang berbeda dan bertentangan yang mungkin dikelabui oleh munculnya konsensus nilai dan norma. Apabila konsensus terhadap nilai dan norma ada, para ahli teori konflik menduga bahwa konsensus itu mencerminkan kontrol dari kelompok dominan dalam masyarakat terhadap berbagai media komunikasi (seperti lembaga pendidikan dan lembaga media massa), dimana kesadaran individu dan komitmen ideologi bagi kepentingan kelompok dominan dibentuk.

B.     LEWIS COSER
Selama lebih dari dua puluh tahun Lewis A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tertumpu kepada struktur sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Berbeda dengan beberapa ahli sosiologi yang menegaskan eksistensi dua perspektif yang berbeda (teori fungsionalis dan teori konflik), coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan kedua pendekatan tersebut.
Akan tetapi para ahli sosiologi kontemporer sering mengacuhkan analisis konflik sosial, mereka melihatnya konflik sebagai penyakit bagi kelompok sosial. Coser memilih untuk menunjukkan berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif yaitu membentuk serta mempertahankan struktur suatu kelompok tertentu. Coser mengembangkan perspektif konflik karya ahli sosiologi Jerman George Simmel.
Inti Pemikiran
Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.
Seluruh fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Misalnya, pengesahan pemisahan gereja kaum tradisional (yang memepertahankan praktik- praktik ajaran katolik pra- Konsili Vatican II) dan gereja Anglo- Katolik (yang berpisah dengan gereja Episcopal mengenai masalah pentahbisan wanita). Perang yang terjadi bertahun- tahun yang terjadi di Timur Tengah telah memperkuat identitas kelompok Negara Arab dan Israel.
Coser melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di antara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin menajam. Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah sistem atau struktur.
Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:
ü  Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Contohnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji dinaikkan.
ü  Konflik Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain-lain.
Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Akan tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan- hubungan yang intim, maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan lebih sulit untuk dipertahankan. Coser mennyatakan bahwa, semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih saying yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang pada hubungan- hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubungan- hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan tersebut. Apabila konflik tersebut benar- benar melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan tersebut.

C.    RALF DAHRENDORF
Teori Konflik dan Teori Konsensus
Walaupun Persons juga mengembangkan teori konflik yang tak begitu ia jelaskan tapi pandangannya lebih mengarah pada teori konsensus. Karena masyarakat memiliki dua muka yaitu konsensus dan konflik, maka ada beberapa teoritisi yang mengembangkan muka-muka tersebut. Seperti halnya Lewis Cosser dan Randall Collins, Ralf Dahrendorf  pun berusaha menyuguhkan teori konflik yang dianggap sangat berpengaruh pada perkembangan masyarakat.
Buku yang ia karang membuatnya dikenal oleh masyarakat yaitu ‘Class and Class Conflik in Industrial Society”. Buku ini berisi rangkaian argument dan beberapa kasus tentang teory konflik yang dianggap berbeda dengan teori konsensus yang lebih kita kenal dengan teori struktural fungsional. Dalam pandangan kaum fungsionalis konflik dianggap merusak tatanan masyarakat seperti Durkheim, Merton dan Persons. Pandangan kaum fungsionalis tadi sangat bertolak belakang dengan para penganut konflik yang menganggap konflik adalah suatu pola interaksi yang dianggap perlu sebagai dasar dari adanya suatu interaksi.
Karya-karya Dahrendorf  pada umumnya banyak terinspirasi oleh karya- karya Marx dan wujud dari protes Dahrendorf akan kaum Marxian, walaupun keduanya dianggap berlawanan. Tetapi dalam buku yang ia karang Class and Class Conflik in Industrial Society dia berargumen banyak tentang teory Marxian yang ia pertentangkan tetapi memiliki banyak persamaan yang tidak mau ia akui.
Meskipun kedua teori memiliki dasar-dasar atau pandangan-pandangan tersendiri, tetapi semua teori-teori ini akan menjadikan sosiologi menjadi lebih berkembang dengan periode-periode yang telah dijalani. Bahkan banyak para pemikir- pemikir mengeluarkan argumen tentang pandangan-pandangannya dengan para pemikir yang lain yang membuat sosiologi sebagai dasar dari sebuah pemikiran yang bisa diperdebatkan.
Teori konflik adalah suatu tatanan sosial yang dilihat sebagai manipulasi dan kontrol dari sekelompok orang yang dominan dan menganggap perubahan sosial terjadi secara cepat. Sedangkan pada teori konsensus adalah suatu persamaan nilai dan norma yang dianggap penting bagi perkembangan masyarakat.
D.    RANDALL COLLINS
Sempitnya wawasan pengetahuan tentang hakikat makna agama, kurangnya pengertian dan kesadaran akan makna perbedaan sebagai hukum alam (Sunnatullah), dapat menimbulkan konflik antar pemeluk agama, atau penganut faham intern  umat beragama. Konflik adalah suatu pertentangan yang timbul dalam masyarakat, baik individu ataupun kelompok, karena adanya perbedaan cara pandang, adanya perbedaan kepentingan, yang pasti karena adanya perbedaan latar belakang sosial budaya; berbeda latar belakang pengetahuan, keyakinan, norma dan nilai-nilai yang dianutnya. Perbedaan sesungguhnya tidak harus selalu menimbulkan pertentangan, jika masing-masing pihak yang merasa berbeda memiliki wawasan yang luas, cara berfikir yang jernih serta niat yang lurus tanpa pretense apalagi prasangka buruk. Secara teoritik, memang konflik selalu berangkat dari adanya perbedaan yang menimbulkan ketegangan dan pertentangan, tetapi pada akhirnya akan membawa perubahan. Seperti dijelaskan oleh Horton (1996:19) bahwa perspektif konflik memusatkan perhatian pada perbedaan, ketegangan dan perubahan yang dipaksakan dan dipertahankan oleh masing-masing pihak untuk memperoleh keuntungan.
Pertentangan apapun secara etimologi tidak bisa lepas dari konsep “konflik”, seperti disebutkan dalam kamus Echols (1997:568) dengan istilah oppsition, conflicting, conflict, controversy, a conflict of desaires : pertentangan kemauan. Dalam ilmu sosial, konflik juga merupakan salah satu perspektif yang banyak digunakan untuk memandang gejala-gejala pertentangan dalam kehidupan masyarakat, selain perspektif evolusionis, interaksionis, fenomenoligis, fungsionalis, strukturalis yang juga digunakan untuk memahami aspek kehidupan masyarakat dari cara pandang yang lain.
Menurut Randall Collins, konflik merupakan proses sentral kehidupan sosial sehingga dia tidak menganggap koflik itu baik atau buruk. Penyebab terjadinya konflik bermacam-macam: dapat disebabkan perbedaan individu, latar belakang budaya, kepentingan, ataupun perubahan-perubahan nilai yang cepat. Konflik dalam pengertian longgar, yakni perbedaan sosio-kultural, politik, dan ideologis di antara berbagai berbagai kelompok masyarakatyang pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan manusia dalam kehidupan kolektif. Sampai kapanpun konflik akan selalu kita temui. Secara garis besar konflik terjadi karena adanya sebuah perbedaan. Dimanapun dan kapanpun perbedaan selalu ada sehingga konflik pun akan selalu ada ketika perbedaan itu ada sedangkan perbedaan itu selalu ada dan tidak akan hilang.
Konsep konflik yang pernah dikembangkan Randall Collins ialah mengenai konsep konflik integratif. Konsep integratif ibarat sepasang suami isteri yang sangat berbeda jenisnya, laki-laki dan perempuan, berbeda adat istiadat, hobi dan kebiasaan, berbeda selera, berbeda kemampuan, tetapi mereka bisa bersatu mendukung terciptanya keluarga harmonis. Mengapa kok bisa,  tentu saja karena masing-masing pihak bisa saling mengerti, saling memahami, saling menerima, meskipun mungkin latar belakang sosial budaya juga berbeda.
Berdasarkan konflok integratif dalam sosiologi yang dikembangkan Randall Collins (1975) berkaitan dengan konflik ideologi. Berdasarkan teorinya Collins dan Cosser berpendapat bahwa masyarakat beragama hidup dalam dunia subyektif yang dibangunnya sendiri (that people life in self constructed subyective worlds), dan masyarakat lain mempunyai kekuatan untuk melalukan control. Masyarakat mempunyai persepsi sendiri berdasarkan sistem budayanya, meskipun mungkin secara subyektif belum tentu sesuai dengan sistem ideologi yang dianutnya. Berbeda dari beberapa ahli sosiologi yang mempertentangkan teori konflik dengan teori fungsional-struktural, justru Coser mengungkapkan komitmennya untuk menyatukan kedua pendekatan tersebut.
Pertentangan atau konflik menurut konsep Ibnu Khaldun, lebih disebabkan oleh pemahaman atau persepsi yang keliru terhadap makna “ashobiah”, yang dianut oleh masyarakat jahiliyah sebelum lahirnya Islam. Konsep “ashobiah”  Jahiliyah merupakan perilaku yang tidak terpuji, timbul karena rasa sombong, takabur dan keinginan untuk bergabung dengan suku yang kuat dan terhormat, sehingga sering menimbulkan konflik antar suku yang ada di sekitarnya. Padahal konsep “ashobiah” sebenarnya mengandung nilai-nilai solidaritas sosial berdasarkan ajaran agama, sesuai dengan makna “ashab” yang berarti hubungan persahabatan atau “ishab”  yang berarti ikatan. Jadi “ashabiah”  berarti ikatan mental yang menghubungkan orang-orang secara kekeluargaan.

E.     JONATHAN TURNER
Turner (1998) memberikan gambaran lahirnya teori konflik yang dimotori oleh tiga orang tokohnya.  Adapun ketiga tokoh yang mempunyai andil lahirnya teori konflik tersebut, antara lain: Karl Marx, Max Weber, dan George Simmel.
Dari pembacaan penulis, Turner (1998) kembali menekankan bahwa masing-masing tokoh yang melahirkan teori konflik tersebut menyusun proposisi yang berbeda-beda tentang kejadian konflik di masyarakat dari unit analisis yang berbeda pula. Hal ini senada dengan pandangan Sanderson (2003) yang menekankan tiga komponen dasar dalam analisis sistem sosiokultural.  Menurutnya bahwa komponen-komponen dasar sistem sosiokultural terdiri atas: superstruktur ideologis, struktur sosial, dan infrastrukturl material. Ketiga komponen dasar inilah, yang kemudian dijadikan pijakan para sosiolog dalam menganalisis fenomena atau kejadian-kejadian sosial yang berlangsung.
Berdasarkan pijakan yang disusun Sanderson (2003), Karl Marx adalah satu dari sekian tokoh sosiologi yang menjadikan infrastruktur material sebagai determinasi sistem sosial yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat.  Dalam kaitannya dengan teori konflik, Turner (1998) menekankan bahwa Marx dalam menyusun proposisinya tentang proses konflik didasarkan atas ketidaksetaraan akses terhadap sumberdaya. Ketidaksertaan ini, kemudian menciptakan kelompok (grup) yang memposisikan dirinya sebagai ordinat (dominasi) disatu sisi, dan subordinat (termarjinalkan) pada sisi lainnya.
Selanjutnya, Marx dalam Turner (1998) mengatakan bahwa mereka yang tersubordinasi akan menjadi peduli terhadap kepentingan kolektif mereka atas dominasi kelompok ordinat dengan mempertanyakan pola distribusi sumberdaya alam yang tidak merata tersebut.  Akibatnya adalah rusaknya relasi (hubungan) antara kelompok ordinat dengan kelompok subordinat disebabkan disposisi aleanatif yang diciptakan oleh kelompok ordinat terhadap kelompok subordinat.  Dalam kondisi seperti ini, kelompok subordinat membangun kesatuan ideologi untuk mempertanyakan sistem yang berlangsung dan melakukan ”perlawanan” melalui kepemimpinan kolektif terhadap kelompok ordinat.

F.     C. WRIGHT MILLS.
Mills adalah salah satu sosiolog Amerika yang berusaha menggabunkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial[1][1]. Ia banyak dikritik karena karya-karyanya terlau berisifat polemis dan menyerang kelompok-kelompok tertentu. Mills yakin bahwa mungkin menciptakan syuatu masyarakt yang baik di atas dasar pengetahuan dan bahwa kaum intelektual harus mengambil tanggung jawab ini, yakni menciptakan sebuah masyarakat yang baik.
            Jadi kesimpulannya, teori konflik itu elemen-elemen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling mengalahkan satu sama lain guna meperoleh kepentingan yang sebesar-besarnya. Menurut karl Marx konflik merupakan salah satu kenyataan sosial yang bisa ditemukan dimana-mana, sedangkan menurut Ralf Dahendorf masyarakat mempunyai 2 wajah yakni konflik dan konsensus, kemudian menurut Jonathan Turner konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristiwa yang mengarah pada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih, lalu menurut Lewis Coser Ia memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik, dan yang terakhir menurut C. Wright Mills Ia menggabungkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial.


G.    GEORGE SIMMEL
Interaksi yang terjadi baik antar individu maupun antar kelompok kadang menimbulkan konflik, dan konflik merupakan pokok bahasan tersendiri yang diuraikan oleh Simmel,menurut Simmel masalah mendasar dari setiap masyarakat adalah konflik antara kekuatan-kekuatan sosial dan individu, karena, pertama, sosial melekat kepada setiap individu dan, kedua, sosial dan unsur-unsur individu dapat berbenturan dalam individu, meskipun pada sisi lain dari konflik merupakan sarana mengintegrasikan individu-individu. Karena setiap individu meiliki kepentingan yang berbeda-beda dan adanya benturan-benturan kepentingan tersebut mencerminkan dari sikap-sikap individu tersebut dalam usahanya memenuhi kebutuhannya, dari sikap yang nampak ini Simmel memiliki sebuah pemikiran yang menghasilkan konsep individualisme ini (dari kepribadian yang berbeda) terwujud dalam prinsip-prinsip ekonomi, masing-masing, persaingan bebas dan pembagian kerja.













BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Konflik adalah suatu proses antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya menjadi tidak berdaya. Konflik itu sendiri merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat maupun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggota atau antar kelompok masyarakat lainnya, konflik itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik yang dapat terkontrol akan menghasilkan integrasi yang baik, namun sebaliknya integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan suatu konflik. konflik organisasi menurut Robbins (1996) adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.

B.     SARAN
Saya menyarankan kepada pembaca agar memberi kritik dan saran terhadap makalah ini yang berjudul “Teori  dan Garis Besar Pemikiran Para Tokoh Teori Konflik” yang sifatnya membangun, demi pembuatan makalah yang lebih baik ke depannya.






DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Ritzer George, dan Goodman Douglas J. 2008. Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Perum Sidorejo Bumi Indah (SBI): Kreasi Wacana.
Kinloch Graham C. 2009. Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi. Bandung: CV Pustaka Setia.
Internet:





0 komentar:

Posting Komentar